- Home
- Hot News
- Overactive Bladder (Beser)
- FDA Setujui Botox untuk Terapi Mengompol
FDA Setujui Botox untuk Terapi Mengompol
- Oleh PWC Author
- Published 17.11.11
- Overactive Bladder (Beser)
Penggunaan suntikan Botox (onabotulinumtoxinA) untuk mengatasi mengompol yang diakibatkan oleh cedera saraf tulang belakang, multiple sclerosis dan penyakit saraf lainnya, telah disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration).
Keadaan mengompol jenis ini kadang disebut sebagai "neurogenic bladder" atau "neuropathic bladder", dimana terjadi kontraksi kandung kemih yang tidak bisa dikontrol sehingga menyebabkan kandung kemih sulit untuk menampung urin.
Sebelum menyetujui penggunaan Botox untuk terapi ini, FDA sebelumnya mengamati data mengenai dua uji klinis yang melibatkan 691 partisipan dengan kondisi mengompol yang diakibatkan oleh multiple sclerosis atau cedera saraf tulang belakang.
Dalam dua studi itu, para pasien yang mendapat suntikan Botox mengalami penurunan kejadian inkontinensia secara signifikan dibandingkan dengan mereka yang menggunakan plasebo.
Saat ini, pasien dengan penyakit tersebut mungkin mendapatkan pengobatan untuk melonggarkan kandung kemih, sementara sebagian lainnya dapat menggunakan kateter untuk buang air kecil.
Saat Botox disuntikkan ke kandung kemih, maka kandung kemih akan menjadi longgar, sehingga dapat meningkatkan daya tampung air kemih dan mengurangi risiko mengompol.
"Mengompol yang berkaitan dengan penyakit saraf sulit diatasi. Namun Botox menjadi salah satu pilihan terapi untuk membantu pasien ini," kata George Benson, deputi direktur Division of Reproductive and Urologic Products di FDA.
Botox disuntikkan ke dalam kandung kemih dengan menggunakan cytoscope - sebuah alat yang dimasukkan melalui saluran kemih (uretra). Terkadang pembiusan total diperlukan untuk melakukan hal ini. Terapi ini efektif selama sekitar sembilan bulan.
Botox sudah disetujui FDA untuk mengatasi wajah berkerut, migren kronis, ketiak berkeringat parah, otot kaku, mata juling dan mata sering berkedut.
Beberapa efek samping yang mungkin terjadi dari penggunaan Botox antara lain retensi urin dan infeksi saluran kemih. Pasien yang yang mengalami retensi urin mungkin harus menggunakan kateter untuk mengosongkan kandung kemih.
Referensi: MedicalNews Today. Botox Approved For Urinary Incontinence In Patients With Neurologic Conditions. http://www.medicalnewstoday.com/articles/233292.php. Diakses 25 Agustus 2011.
PWC/-/Article_OAB_September 2011/POA2/07092011


