Saya bisa merasakan bagaimana penderitaan batin perempuan yang menderita kanker payudara, karena saya pernah mengalaminya. Kini saya bertekad untuk terus memberikan penyadaran, juga untuk berbagi rasa sebagai tempat curahan hati. Sebagai mantan penderita kanker payudara, saya kini aktif di Yayasan Kanker Payudara Jakarta.

Saya mengisahkan, 12 tahun yang lalu, merasakan ada benjolan di payudaranya namun tidak ada rasa sakit. Saat itu saya akan menunaikan ibadah haji, hasil tes kesehatan menunjukkan bila kedua payudara saya terkena kanker dan harapan hidup hanya 40 persen. Waduh, saya merasa shock, apalagi anak-anak masih kecil. Saya akhirnya memutuskan untuk berobat ke Roterdam Belanda di sebuah RS yang khusus menangani kanker payudara. Pasca operasi dan pengangkatan kelenjar getah bening di ketiaknya, saya masih harus bolak-balik untuk mengontrol kesehatannya ke Roterdam. Setiap kali itu pula, saya selalu merasa deg-degan. Namun kini, saya kembali bisa beraktivitas biasa, namun tentu saja tetap mengukur diri. Bila badan terasa lelah dan tangan mulai memanas, maka Saya mulai menurunkan aktivitasnya. Saya juga selalu berupaya berpikir positif, supaya tidak stress.