Keputihan | OAB | Kanker Payudara | Kenali Penyakit Umum dan Pencegahannya | Peduliperempuan.com - http://www.peduliperempuan.com
Pfizer luncurkan Pfizer Woman Care (PWC)
http://www.peduliperempuan.com/articles/4/1/Pfizer-luncurkan-Pfizer-Woman-Care-PWC/Page1.html
Oleh PWC Author
Published on 23.06.08
 
Di antara berbagai masalah kesehatan yang umum dialami perempuan, ada tiga penyakit yang cenderung tidak tertangani dengan baik hingga menjadi parah, yakni keputihan, overactive bladder (OAB) yang lebih dikenal dengan sering buang air kecil dan kanker payudara. Di dalam siklus kehidupan perempuan mulai dari remaja hingga lanjut usia, ketiga penyakit ini dapat mengintai setiap saat. Hal inilah yang melatarbelakangi PT. Pfizer Indonesia meluncurkan kampanye kesehatan perempuan Pfizer Woman Care (PWC) pada hari ini di Jakarta.a

PFIZER WOMAN CARE (PWC) AJAK PEREMPUAN INDONESIA WASPADAI TIGA GANGGUAN KESEHATAN


Edukasi perempuan dan keluarganya untuk menangani keputihan, sering buang air kecil (overactive bladder) dan kanker payudara dengan tepat dan cermat

 
Jakarta – Di antara berbagai masalah kesehatan yang umum dialami perempuan, ada tiga penyakit yang cenderung tidak tertangani dengan baik hingga menjadi parah, yakni keputihan, overactive bladder (OAB) yang lebih dikenal dengan sering buang air kecil dan kanker payudara. Di dalam siklus kehidupan perempuan mulai dari remaja hingga lanjut usia, ketiga penyakit ini dapat mengintai setiap saat. Hal inilah yang melatarbelakangi PT. Pfizer Indonesia meluncurkan kampanye kesehatan perempuan Pfizer Woman Care (PWC) pada hari ini di Jakarta.

Keputihan dan overactive bladder merupakan penyakit yang sebenarnya diderita banyak perempuan. Bahkan sesungguhnya 75% dari seluruh wanita di dunia pasti akan mengalami keputihan paling tidak sekali seumur hidup dan sebanyak 45% akan mengalami dua kali atau lebih.¹ Sementara gejala overactive bladder menghinggapi setidaknya 53% wanita di Asia. 4,5  Tetapi karena kedua penyakit tersebut secara kasat mata tidak dianggap membahayakan, banyak perempuan yang cenderung mengabaikannya. Penanganan yang dilakukan untuk kedua penyakit tersebut seringkali tidak cukup maksimal, bahkan hanya sebatas pengobatan sendiri, sehingga biasanya penderita datang ke dokter pada saat penyakit sudah parah. ¹

Begitu juga halnya dengan kanker payudara. Terutama para perempuan yang sudah terdiagnosa penyakit tersebut dan diharuskan untuk menjalani terapi pengangkatan payudara, para survivor kanker payudara biasanya diharuskan untuk tetap mengkonsumsi obat agar sel kanker tidak timbul kembali. Tetapi sayang, kesadaran mereka untuk tetap patuh pada pengobatan masih relatif rendah.

Andriani Ganeswari, Marketing & Communications Manager PT Pfizer Indonesia mengatakan, “Kami tergerak melihat kenyataan bahwa kesadaran perempuan dan keluarga masih rendah dalam menangani ketiga masalah kesehatan ini (keputihan, overactive bladder dan kanker payudara) hingga terlanjur menjadi parah. Oleh sebab itu, sejalan dengan komitmen Pfizer terhadap pengembangan kesehatan perempuan, kami menyerukan pentingnya mewaspadai ketiga penyakit tersebut melalui kampanye Pfizer Woman Care yang bertujuan membantu meningkatkan kepedulian perempuan dan keluarganya akan ketiga masalah kesehatan tersebut. Dengan demikian, perempuan dapat mencapai status kesehatan yang lebih baik, beraktivitas dengan nyaman, produktif dan berperan optimal di dalam keluarga dan masyarakat.”

”Ketiga penyakit ini sebenarnya dapat dicegah dengan gaya hidup sehat, namun apabila terlanjur mengalaminya segera tangani dengan baik agar tidak bertambah parah. Jadi jangan malu atau menyerah untuk mendapatkan solusi pengobatan,” lanjut Andriani.

Seperti misalnya keputihan. Masalah kesehatan ini dapat terjadi apabila terdapat infeksi dibagian kewanitaan atau tumbuh jamur candida, jamur mikroskopik yang mendiami vagina, yang berlebihan, maka cairan vagina yang keluar tidak normal. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG (K), dokter spesialis kandungan dan ginekologi dari FKUI/RSCM menjelaskan, ”Keputihan memang sering dialami oleh semua perempuan, akan tetapi jika cairan yang keluar berlebihan, gatal dan berbau, maka akan mengakibatkan ketidaknyamanan, sehingga dianjurkan bagi perempuan untuk berkonsultasi dengan dokter serta mendapatkan pengobatan yang tepat.” Lebih lanjut, beliau menambahkan, “Banyak perempuan merasa malu mengutarakan penyakitnya atau beranggapan bahwa keputihan merupakan hal yang wajar dan tidak perlu diobati. Mereka belum menyadari bahwa keputihan bisa menjadi tanda awal dari penyakit yang lebih berat seperti vaginal candidiasis, gonorrhea, chlamydia dan bahkan kanker. Penyakit perempuan ini tidak hanya terjadi pada mereka yang sudah menikah, tetapi juga pada mereka yang belum menikah, khususnya mereka yang sudah mengalami haid.”


Keputihan dapat dicegah dengan menjaga kebersihan genitalia, memilih pakaian dalam yang tepat, menghindarkan faktor risiko infeksi seperti berganti-ganti pasangan seksual, serta pemeriksaan ginekologi secara teratur termasuk pemeriksaan deteksi dini kanker serviks (pap smear) satu tahun sekali bagi yang pernah melakukan hubungan seksual. Sementara dari segi terapi obat , keputihan dapat diobati dengan obat oral dosis tunggal (sekali konsumsi) dengan resep dokter, yaitu fluconazole, dimana pasien akan makin nyaman dalam penggunaan obat.

Penyakit umum lainnya pada perempuan namun sering tidak disadari adalah overactive bladder (OAB atau sering buang air kecil). Masalah kesehatan yang penyebabnya belum diketahui dengan pasti ini biasanya dialami oleh perempuan lansia dan kerap kali mengakibatkan gangguan fisik, psikologis, sosial, ekonomi serta mengganggu aktivitas seksualnya. Dr. Siti Setiati, SpPD. K-Ger, dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan geriatri FKUI/RSCM, menjelaskan, “Sekarang overactive bladder tidak hanya di alami oleh perempuan lansia, tetapi juga pada perempuan di usia produktif (25-30 tahun). Sering buang air kecil (overactive bladder / OAB) mungkin masalah yang seringkali di anggap remeh oleh perempuan, akan tetapi jika didiamkan dapat menganggu banyak aspek dari kehidupan sehari-hari, sehingga kualitas hidup pun menurun.”
 
Walau demikian, overactive bladder dapat diatasi dengan mengkonsumsi obat tolterodine tartrate yang dapat diperoleh melalui resep dan pengawasan dokter. Agar penatalaksaan overactive bladder menjadi lebih baik, penderita dapat berlatih menahan buang air kecil selama 30 menit, senam Kegel untuk mengencangkan otot-otot sekitar vagina, memperhatikan asupan makanan dan minuman, serta tidak makan dan minum dua jam sebelum tidur.

Apabila keputihan dan overactive bladder sering tidak dianggap membahayakan dan mematikan, masalah kesehatan yang lain, yaitu kanker payudara, sudah terkenal sebagai pembunuh perempuan nomor dua setelah kanker serviks. Profil kesehatan Indonesia 2005 menyatakan bahwa kanker payudara merupakan kanker yang menduduki peringkat pertama di Indonesia. Resiko menderita kanker payudara meningkat seiring bertambahnya usia dan pada wanita yang mulai menstruasi pada usia kurang dari 12 tahun atau menopause pada usia diatas 55 tahun.2

Bagi para penderita yang terpaksa harus melakukan terapi pengangkatan payudara dan dinyatakan sembuh, belum sepenuhnya berarti terbebas dari sel kanker selamanya. Data yang dipublikasikan di Journal of Clinical Oncology tahun 1996 menyatakan bahwa setelah mengalami operasi, resiko rata-rata munculnya kembali kanker payudara antara tahun kelima dan keduabelas adalah 4,3% per tahun.³ Untuk mencegah hal ini terjadi, penderita memerlukan pemerikasaan rutin, penerapan gaya hidup sehat serta kepatuhan konsumsi obat yang tepat. Menurut Dr. dr Noorwati Sutandyo, SpPD. KHOM, seorang spesialis dibidang hematologi dan onkologi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais,  “Ada kemungkinan bagi perempuan yang telah dinyatakan sembuh dari kanker payudara dapat mengalaminya kembali. Oleh sebab itu, kami selalu menyarankan kepada survivor untuk selalu patuh melakukan terapi sesuai rekomendasi dokter. Terutama bagi mereka yang telah menopause dan mempunyai reseptor estrogen positif, salah satu terapi yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi obat terapi hormon exemestane yang dapat memblok produksi estrogen.“ Selain itu, survivor juga diharapkan senantiasa melakukan SADARI, mammogram setahun sekali dan pemeriksaan secara fisik oleh dokter untuk memastikan sel kanker tidak kembali muncul.

“Dengan edukasi yang berkesinambungan mengenai keputihan, overactive bladder dan kanker payudara melalui PWC, kami berharap agar perempuan Indonesia dan keluarganya menjadi lebih terberdaya dan tidak tinggal diam dalam mengatasi penyakit tersebut,” tutup Andriani.


Referensi :

1.http://www.cancer.org/docroot/CRI/content/CRI_2_4_2X_What_are_the_risk_factors_for_b   reast_cancer_5.asp?rnav=cri
2.Sexual Transmitted Disease Treatment Guidelines.   Vulvovaginal Candidiasis.     CDC.Morbidity and Mortality   Weekly Report. 2006: 54
3.Journal of Clinical Oncology. 1996. American Society of   Clinical Oncology .Vol 14 :    2738 – 2746.
4.Moorthy P et al, BJU International 2004;93:528-531
5.Lapitan MC, Chye PLH, In Urogynecol 2001;12:226-231

Tentang Kampanye Pfizer Women Care (PWC)

Sebagai wujud komitmen terhadap pengembangan kesehatan perempuan, PT. Pfizer Indonesia meluncurkan Pfizer Woman Care Campaign (PWC), upaya edukasi kepada kaum perempuan mengenai penanganan penyakit-penyakit yang umum dialami perempuan yaitu keputihan, overactive bladder dan kanker payudara.

Kegiatan kampanye PWC selama tahun 2008 meliputi sosialisasi ketiga masalah kesehatan ini kepada masyarakat melalui diskusi media, distribusi booklet informasi, diskusi awam dengan mitra serta melakukan penyuluhan-penyuluhan kepada kelompok-kelompok pasien di rumah sakit dan klinik baik yang mengalami keputihan, overactive bladder  maupun kanker payudara.

Kegiatan edukasi akan terfokus pada  media, pasien dan keluarganya serta perempuan dewasa berusia 20 - 60 tahun pada umumnya.

Kegiatan ini bertujuan untuk :
•  Memberi pengetahuan kepada perempuan dan keluarganya untuk    peduli terhadap    kesehatan dan risiko penyakit yang    dihadapi perempuan.
•  Memberdayakan perempuan untuk mampu mengenali gejala dan    mendapatkan penanganan    yang tepat untuk mendapatkan    kesembuhan dari salah satu penyakit ini dan    mendapatkan    kualitas hidup yang lebih baik bersama keluarga.

Tentang PT. Pfizer Indonesia
PT. Pfizer Indonesia telah beroperasi sejak tahun 1969. Dari total minimum 5 karyawan, PT. Pfizer Indonesia telah berkembang menjadi salah satu perusahaan farmasi multinasional terbesar di Indonesia. Saat ini PT. Pfizer Indonesia memiliki lebih dari 1000 karyawan yang tersebar di lebih dari 40 area di seluruh Indonesia. Kegiatan usaha PT. Pfizer Indonesia meliputi Unit Usaha Pfizer Human Health untuk produk resep dan Unit Usaha Animal Health. Produk Resep kami terdiri dari beragam kelas terapi yang mendominasi pasar, antara lain Obat Anti-Inflamasi, Obat Kardiovaskular, Anti-Depresi, Anti-Infeksi, Anti-Diabetes, Anti-Rematik Golongan COX-2 Spesifik Inhibitor, Obat Kanker, Obat Disfungsi Ereksi, serta Obat Glaukoma. PT. Pfizer Indonesia juga aktif dalam melakukan berbagai upaya peningkatan kesadaran atas kesehatan masyarakat, antara lain melalui kampanye bahaya obat palsu, program Klub Hidup Sehat (KHS), sebuah program edukasi kesehatan bagi pasien yang menjalani terapi jangka-panjang dengan produk-produk kami. Bagi komunitas jurnalis, kami memiliki wadah yang berfungsi sebagai pusat informasi dan edukasi kesehatan yakni Pfizer Press Circle. Komitmen kami terhadap kegiatan kemasyarakatan  diwujudkan melalui tema utama “Saat Anda dan Pfizer Peduli”. Aktivitas yang telah dijalankan antara lain 1). Program kemitraan dalam edukasi kesehatan masyarakat dan penggalangan dana bagi  Yayasan Thalasemia, Yayasan Asma, Yayasan AIDS Indonesia, Yayasan Kanker Indonesia, dan Yayasan Epilepsi Indonesia; 2). Pemberian bantuan korban bencana alam tsunami di Aceh, dimana selain bantuan obat-obatan kami memberikan dukungan kepada psikiater RSCM untuk pemulihan pasien dengan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Melalui program “Buka Hati Bantu Sesama”, sebuah program philantrophy, kami bermitra dan berkontribusi dengan berbagai yayasan sosial. Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, kami meluncurkan program “Bangga Jadi Relawan” pada tahun 2004. Inisiatif ini merupakan program pengembangan komunitas yang melibatkan karyawan PT. Pfizer Indonesia sebagai sukarelawan dalam menyampaikan pendidikan pola hidup sehat di SD-SD sekitar pabrik PT. Pfizer Indonesia di Gandaria.

Dengan berlandaskan komitmen dan nilai-nilai luhur yang dimilikinya, PT. Pfizer Indonesia terus berupaya “Berkarya Untuk Indonesia Yang Lebih Sehat”. Untuk keterangan lebih lanjut, kunjungi situs kami di www.pfizerpeduli.com  .